Banyak orang tua kesulitan dalam mendidik dan mengasuh anak, terutama dalam hal memahami pola mereka. Ketika anak tidak fokus belajar, cepat bosan, atau tidak memahami pelajaran meski sudah disampaikan berulang kali. Anak sudah bermain tetapi orang tua memaksanya untuk belajar membaca.
Karena anak yang tidak mau belajar, maka tidak sedikit menganggap anaknya malas atau kurang cerdas. Padahal, masalah bukan pada kecerdasan, tetapi pada cara anak belajar.
Ketika anak berumur 3 tahun yang dipaksa duduk dan belajar berhitung, terkadang menangis karena bosan. Disisi lain, anak dengan usia yang sama belajar menghitung dengan memakai media buah terlihat senang dan lebih cepat.
Jadi, ini berbicara tentang orang tua memahami pola belajar anak, bukan tentang anak yang malas. Ingat, seorang anak selalu belajar dengan cara yang berbeda di setiap usia. Teori dari Jean Piaget membantu menjelaskan hal ini secara sederhana dan masuk akal.
Apa Itu Pola Belajar Anak Menurut Jean Piaget?
Memahami tentang pola asuh anak sangat penting dan bermanfaat untuk mendidik anak dengan cara yang tepat. Menurut Jean Piaget, anak adalah pembelajar aktif. Mereka tidak hanya melihat dan mengamati, tetapi membangun pemahaman sendiri melalui pengalaman setiap setiap hari.
Ada dua proses utama dalam hal ini:
Asimilasi: pada tahap ini, anak memasukkan pengalaman baru yang diperoleh ke pemahaman yang sudah ada
Akomodasi :anak terus belajar menyesuaikan cara berpikir ketika menemukan hal-hal baru.
Jadi, orang tua perlu tahu bahwa anak tidak belajar dari penjelasan, tetapi ia belajar karena mengalami langsung. Agar lebih mudah diterapkan, berikut 4 tahap perkembangan anak lengkap dengan contoh nyata sehari-hari.
1. Usia 0–2 Tahun: "Sensorimotor"
Pada tahap ini, orang tua perlu memahami pola belajar anak dari hal-hal sederhana setiap hari.
Contohnya:
Ketika seorang anak (Bayi) memegang sendok, lalu menjatuhkan sendok berkali-kali dari. Bagi orang tua mungkin terlihat mengganggu, tapi sebenarnya anak sedang belajar konsep sederhana: benda akan jatuh jika dilepaskan.
Pada tahap ini, orang tua perlu memahami polanya:
pada usia ini, anak belajar dari apa yang ia sentuh dan gerakan
anak membutuhkan pengalaman baru
interaksi langsung sangat penting
2. Usia 2–7 Tahun : "Pra operasional"
Contoh di bawah ini bisa membantu orang tua dalam memahami tahapan berpikir anak, melalui eskplorasi.
Ada seorang anak perempuan yang suka bermain dokter-dokteran, lalu mereka mengobati boneka. Di sini anak bukan sekedar bermain, tetapi mereka sedang belajar memahami dunia melalui imajinasinya.
Ada beberapa cara untuk mengembangkan pola belajar anak:
- gunakan cerita dengan gambar dan permainan
- gunakan cara-cara sederhana, jangan yang rumit
- Biarkan anak akan melihat, mendengar dan bertanya
Pada tahap ini anak akan belajar dengan melihat simbol lalu mengembangkan imajinasinya.
3. Usia 7–11 Tahun: "Operasional Konkret"
Dalam hal menghitung:
Pembelajaran pertama: "orang tua mengajar berhitung 1 sampai 20 hanya dengan kata-kata tanpa (tanpa media)."
Pembelajaran kedua : orang tua mengajar anak dengan simbol, misalnya dengan menggunakan 20 jeruk. Anak mengambil jeruk tersebut sambil menghitung jumlahnya.
Daru dua pola tersebut, maka yang membuat anak lebih cepat untuk bisa menghitung adalah bagian kedua. Mengapa demikian? Karena anak melihat simbol yang nyata, yaitu "jeruk." Meski cara ini sederhana, namun di sinilah anak mendapatkan pengalaman langsung dan belajar.
Cara memahami pola belajar anak yang perlukan diperhatikan:
- selalu gunakan gambar atau benda nyata
- ajak praktik langsung
hubungkan kegiatan belajar dengan kehidupan sehari-hari, karena anak belajar berpikir dari pengalaman nyata.
4. Usia 11 Tahun ke Atas: "Operasional Formal"
Pada tahap belajar ini, anak akan lebih aktif bertanya dan kritis. Misalnya:
"Mengapa kita harus belajar?" atau "mengapa mama memakai baju warna biru?"
- Cara memahami pola belajar:
- dampingi anak dan ajak diskusi
- biarkan anak bertanya dan jangan dimarahi
Mengapa demikian? Karena pada tahap ini anak sedang mengembangkan dan belajar berpikir abstrak.
Kesalahan Umum Orang Tua
Banyak orang tua tanpa sadar melakukan hal ini:
- sering memaksa anak belajar di luar tahap usianya
- orang tua tidak sabar dan membiarkan anak
- membandingkan anak dengan anak lain
- selalu memberi jawaban tanpa memberi kesempatan anak berpikir
Padahal, ini justru bisa:
- membuat anak menjadi stres dan bingung
- rasa percaya diri anak menurun
- tahap belajarnya tidak berkembang secara alami
Cara Menerapkan Teori Piaget di Rumah
Pendidikan atau pola asuh anak sejak dini sangat penting sekali untuk membentuk karakternya, cara berpikirnya dan membantu perkembangannya berjalan secara alami.
Agar lebih aplikatif, berikut cara sederhana yang bisa langsung dilakukan:
- biarkan anak mencoba belajar hal-hal baru
- gunakan media dalam permainan dan kegiatan belajar
- sesuaikan cara menjelaskan dengan usia anak
- jangan takut anak salah, karena itu bagian dari belajar
- ajak anak berdiskusi sesuai kemampuannya
Kunci utamanya orang tua harus sabar dan selalu siap mendampingi anak.
Pola belajar anak menurut Jean Piaget lebih menekankan pada proses belajar yang sesuai tahap perkembangan berpikirnya.
Jadi, pendidikan dan pembelajaran anak tidak bisa berdasarkan kemauan orang tua, tetapi harus menyesuaikan kemampuan anak sesuai dengan perkembangan berpikirnya.
Dengan ini kita memahami bahwa:
- orang tua harus lebih sabar dan selalu mendampinginya
- biarkan anak belajar sesuai dengan caranya
- proses belajar harus dengan contoh dan simbol nyata
Pendidikan anak yang baik bukan tentang membuat anak cepat bisa, tetapi membantu anak berkembang dengan cara yang tepat.
